Salam Takzim. Riau berada di garda terdepan dalam menjaga tradisi dan
budaya Melayu di Indonesia, maupun dunia. Bahasa pengantar di provinsi ini adalah
Melayu. Perkembangan kebiasaan dan hidup di provinsi ini adalah adat
istiadat Melayu, yang mengatur segala kegiatan dan perilaku penduduk
Syari'ah Islam. Penduduk terdiri dari orang Melayu Riau dan berbagai
suku lainnya, mulai dari Bugis, Banjar, Mandahiling, Batak, Jawa,
Minangkabau, dan China.
Provinsi ini masih ada kelompok masyarakat/suku terasing, antara lain:
1. Suku Sakai: kelompok etnis yang tinggal di beberapa daerah seperti Kampar, Bengkalis, Dumai:
2. Suku Talang Mamak: tinggal di Kabupaten Indragiri Hulu dengan daerah distribusi mencakup tiga kabupaten: Pasir Penyu, Siberida, dan Rengat:
3. Suku Akit: kelompok sosial yang tinggal di kawasan hutan Kabupaten Long Rupat, Kabupaten Bengkalis:
4. Suku Hutan: suku asli yang mendiami daerah Selat Baru dan
Jangkang di Bengkalis, dan juga membuat desa di Pulau Rangsang Kabupaten
Sokap Ridge Tinggi Merbau dan menghuni sungai-sungai dan Kuala Kampar
Apit.
Dari sumber-sumber sejarah mencatat bahwa di masa lalu, di Riau
(sekarang Provinsi Riau) telah datang gelombang migrasi nenek moyang
Indonesia. Gelombang pertama migrasi menunjukkan karakteristik ras
Weddoid yang datang sesudah zaman es terakhir. Ras adalah ras pertama
yang menghuni nusantara. Sisa-sisa leluhur gelombang pertama dari ras
ini masih ada saat ini dan kelompok terpisah di Riau. Mereka disebut
Orang Sakai, Hutan, dan The Citadel. Sisa-sisa nenek moyang sering
disebut orang pribumi sekarang tidak jumlah besar lagi. Orang Sakai yang
mendiami Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Kampar dan Mandau,
Kabupaten Bengkalis hanya berjumlah 2.160 jiwa. Orang-orang yang
mendiami Pulau Penyalai hutan, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Kampar
berjumlah 1.494 jiwa.
Saat ini, Provinsi Riau di pimpin oleh Plt ( Pelaksana Tugas ) dari Pusat, yaitu Bpk. Arsyadjuliandi Rachman, yang menggantikan Bpk. Annas Maamun. Saat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar