Idrus dibesarkan dalam lingkungan keluarga asli melayu Riau,
ayahnya bernama Tintin lahir di Lubuk Ambacang, Indragiri( Sekarang termasuk
dikabupaten Kuansing), sedangkan ibunya bernama Tiamah, berasal dari
penyiamahan dan menetap di Enok dalam melayu timur, indragiri ( Sekarang
termasuk dikabupaten Indra Giri Hilir, Riau).
Ayahnya Idrus bekerja sebagai nahkoda, awalnya ia bekerja
dijawatan pelayaran Indonesia, Baru kemudian dipindah tugaskan kelaut cina
selatan, Tarempa kepulauan Riau, dengan berbagai pertimbangan tinting memboyong
keluarganya menetap di Tarempa. Pada 14 Desember 1941 pasukan jepang
membombardir wilayah tarempa, didalam peristiwa tersebut sekitar 300 masyarakat
sipil menjadi korban termasuk ayahnya Idrus yang juga ikut meninggal dunia pada
tahun 1942.
Setelah ayahnya wafat Idrus dan ibunya pindah kerengat
disana ia melanjitkan pendidikanya yang terbengkalai akibat perang, setamatnya
sekolah rakyat idrus melanjutkan pendidikanya dichugakko. Namun tidak selesai.
Sekitar tahun 1941 Idrus dititipkan keasrama penampungan yatim piatu Dai Toa
Kodomo Ryo milik pemerintah Jepang, disinilah Idrus mulai mengenal dunia
Drama.Idrus kemudian memulai debutnya didunia teater setelah masuk kegrup drama raja khatijah. Bersama rekanya Hasan Basri,
Idrus berperan dalam pertunjukan drama berbahasa jepang.
Sang Budayawan
Karena kefasihanya berbahasa jepang Idrus diterima bekerja
di Sentral Telepon Penduduk Jepang, kemudian ditahun 1943 beliau dipindahkan
keasrama Kubota dan bekerja dibiro okabutai, Tanjung pinang selama 5 bulan.
Ditengah kesibukanya bekerja Idrus masih saja menggeluti dunia teater hal ini
dibuktikanya dengan mengikuti Drama pendek yang mengisahkan kehidupan Petani
dan Nelayan yang hidup melarat berjudul Noserang.
Pada tahun 1945 Idrus
Pindah ke Tembilahan dan masuk Sekolah SMP Muhammadiyah, tidak selesai..
Beramain teater sebagai Piguran bersama grup drama Agus Moeis dan Hasbullah.]
Pada tahun 1947 Idrus Pindah ke Rengat dan melanjutkan Sekolah SMP. Masa-masa
sekolah di Rengat setiap ada kesempatan, Idrus selalu saja bermain teater.
1948 Idrus masuk tentara pangkat prajurit.
Pada tahun 1950 Idrus Pindah ke Tanjung Pinang
dan bekerja sebagai Staf Angkatan Darat. Di tahun 1952 Idrus Pindah
ke Tarempa disana dia mendirikan grup
sandiwara Gurinda
dan pada tahun 1954 Masuk Pegawai Negeri sampai menjadi Kepala Kantor Sosial Kewedanan Pulau Tujuh. Pada 1957 Idrus Tintin yang bergemilang dengan kesenian dan masih mencari identitas diri maka dipindahkan ke Tanjung Pinang dan kemudian meninggalkan tugas pegawai negeri.
Bersama Hanafi Harun membentuk kelompok teater non formal di Tanjung Pinang ditahun 1958 dan tampil berpuluh kali. Beberapa cerita yang dimainkan yaitu Buih dan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah Makan, dan awal dan Mira.
dan pada tahun 1954 Masuk Pegawai Negeri sampai menjadi Kepala Kantor Sosial Kewedanan Pulau Tujuh. Pada 1957 Idrus Tintin yang bergemilang dengan kesenian dan masih mencari identitas diri maka dipindahkan ke Tanjung Pinang dan kemudian meninggalkan tugas pegawai negeri.
Bersama Hanafi Harun membentuk kelompok teater non formal di Tanjung Pinang ditahun 1958 dan tampil berpuluh kali. Beberapa cerita yang dimainkan yaitu Buih dan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah Makan, dan awal dan Mira.
Kembali ke Rengat dan menikah dengan Masni seorang perempuan
Rengat Indragiri, Riau. Bekerja di Kantor Penerangan Rengat, Indragiri, Riau
pada tahun 1959
Membentuk kelompok teater dan berkali-kali memimpin
pertunjukan bersama Taufik Effendi Aria, Bakri, Rusdi Abduh di Rengat, Tanjung
Pinang, Tembilahan. Naskah cerita yang dimainkan merupakan naskah yang dibuat
sendiri namun tidak terarsip baik Idrus Tintin maupun kawan-kawan grupnya.
Kegiatan berteater di Rengat dilakukan sampai tahun 1965.
Mengikuti festival Drama di Pekanbaru yang ditaja oleh
Pemerintah Daerah Riau Idrus Tintin mendapat penghargaan sebagai actor terbaik
pada tahun 1964.
Pada tahun 1966 Idrus Memimpin dan menyutradarai sebuah
pertunjukan drama di Gedung Trikora, yang didukung anatara lain oleh M. Rasul,
Taufik Effendi Aria, Mami Soebrantas, dan RP Marpaung. Ditahun yang sama Idrus
Pindah ke Jakarta, bekerja di sebuah Travel Nusantara
Air Center
dan Majalah Indonesia Movie rubric budaya.
Membentuk
Grup Movies Teater di Gedung Kesenian Jakarta
bersama dengan Alex Zulkarnain, Meninggalkan semua pekerjaan di Jakarta, kembali ke
Rengat kemudian tahun yang sama pindah ke Pekanbaru dan bekerja di Perusahaan
Penimbunan Pasir, Menyutradarai pertunjukan ?Hariamau Tingkis? di Balia Dang
Merdu di bawah koordinator BM Syam dengan para pemain antara lain Faruq AIwi,
Patopoi Menteng, Akhyar dan Yusuf Dang. Berhenti bekerja di perusahaan,
kemudian bekerja sebagai pegawai honor Bagian Humas Kantor Gubernur Riau dan
salah seorang pengasuh majalah Gema Riau. 1974 Mendirikan Teater Bahana dibantu
oleb Armawi KH.
Pada tahun1996 Idrus Mengajar di SMAN 2
Pekanbaru selama 17 tahun. Idrus Tintin membina siswanya berkesenian di Teater
Bahana. Minimal satu kali sebulan Teater Bahana melakukan pementasan di
Pekanbaru dan beliau MenerimaAnugrah
Sagang untuk seniman/budayawan terpilih dari Yayasan Sagang Riau Pos Media Grup
ditahun yang sama.
Idrus
Tintin selalu mengikuti pertemuan ilmiah baik sebagai pembicara, peserta maupun
mengadakan pertunjukan teater monolog. Kawan-kawan Idrus mengatakan bahwa
kehidupan Idrus adalah teater.
Pada Tanggal 14 Juli 2003, Idnus Tintin tutup usia dan dikebumikan direngat disamping makam raja- raja rengat tepatnya disamping masjid raya rengat, Indragiri Hulu
Penobatan almarhum Idrus Tintin sebagai satu dari
dua budayawan nasional, yang meraih bintang budaya Parama Dharma oleh
pemerintah Republik Indonesia, merupakan kebanggan besar bagi masyarakat Riau
secara umum. pasalnya, Idrus Tintin menerima penghargaan ini, bersamaan dengan
yang diterima aktor kawakan, sekaligus budayawan Betawi, Benyamin Suep. Banyak
yang mengakui, penggorbanan seorang Idrus Tintin dalam berkarya untuk seni dan
budaya melayu, sangat besar. sehingga nama Idrus Tintin, dinobatkan untuk
gedung budaya di purna MTQ Pekanbaru. Dalam mengenang jasa dan pengorbanan
Idrus Tintin inilah, sejumlah kerabat lama, dan juga merupakan budayawan Riau,
diantaranya, Rida K Liamsi, Tenas Effendi, Ok Nizami Jamil dan lainnya,
memberikan suatu penghargaan, dalam bentuk pegelaran puisi, Pembacaan puisi
oleh sejumlah budayawan ini, ikut diiringi dengan alunan musik bandar serai
orchestra, sehingga menambah merdu dan sahdunya puisi yang dibaca. Rida K
Liamsi mengatakan, idrus tintin adalah budayawan besar dan menasional, yang
layak dibanggakan bangsa dan daerah ini.
Tokoh budayawan Riau, Tenas Effendi
mengungkapkan, Idrus Tintin sangat layak mendapatkat gelar bintang Parama
Dharma, karena karya-karyanya mampu mengangkat marwah melayu. Pegelaran baca
puisi juga diiringi dengan pemberian cendra mata dari sahabat karib Idrus
Tintin lainnya, Ok Nizami zamil, berupa sebuah foto kenangan, kepada anak
almarhum, Multi Tintin.Putri almarhum Idrus Tintin, Multi Tintin mengaku
terharu dan tersanjung, dengan penghargaan yang telah diberikan kepada almarhum
ayahnya. dukungan para sahabat dan tokoh budaya melayu Riau, juga di anggap
sangat berpengaruh bagi kehidupan keluarganya.Pegelaran baca puisi untuk
almarhum Idrus Tintin ini, diharapkan mampu memitivasi generasi muda , untuk
terus mengembangkan karya seni dan budayanya untuk Riau.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar